Jumat, 07 Februari 2014

Makan Ulat salak, Bisa Jadi Kaya ?



UNGKAPAN tersebut sangat dikenal oleh masyarakat Bali, terutama bagi yang saat ini berusia lima puluh tahun ke atas. Untuk kalangan muda, hal init rasa aneh sebab sama sekali tidak masuk akal.
Selintas memang demikian, orang yang bekerja siang malam, membanting tulang memeras keringat belum tentu menjadi kaya, apalagi dengan cara yang muda yaitu makan ulat salak.
Ulat salak tidak banyak jumlahnya dan tidak semua salak ang bosok ( busuk ) mengandung ulat. Mungkin dalam sekeranjang salak bosok hanya terdapat beberapa ekor ulat. Itu pun jika pemburu ulat itu benar-benar bermata jeli sebab warna ulat hamper sama dengan warna salak.
Ungkapan ulat salak boleh dikata sama tuanya dengan usia masyarakat Bali. Dengan kata lain ungkapan tersebut sudah ada sejak zaman dahulu.
Pada masa yang lalu, banyak ditemukan ungkapan-ungkapan yang sarat dengan falsafah dan nilai pendidikan. Perhatikanlah ungkapan-ungkapan berikut: jangan duduk diatas bantal nanti pantatnya bisul. Jangan berbicara diwaktu pagi nanti nasi para bidadari basi. Jangan mengintip orang mandi nanti matanya kelilipan. Jangan membuang nasi nanti ayamnya mati. Dan banyak lagi ungkapan lain yang terkadang bernada menakut-nakuti dan terkadang kala terkesan porno.
Pada umumnya anak-anak patuh terhadap larangan-larangan tersebut tanpa membantah dan banyak bertanya karena mereka yakin bahwa yang dikatakan oleh para orang tua itu benar. Ungkapan-ungkapan itu sekarang sulit diterima, apalagi bagi anak-anak yang sudh bisa berfikir kritis. Walaupun demikian, jika kita mau berfikir lebih arif semua itu banyak mengandung nsur pendidikan dan etika budi pekerti. Duduk di atas bantal itu kurang etis, demikian juga ngintip orang mandi, bukan? Hidup santai dan membuang-buang makanan juga termasuk pemborosan. Ini membuat hidup tetap tertinggal.
Kembali pada ulat salak yang bikin orang bisa jadi kaya. Ditinjau dari segi ekonomi, ungkapan ini sangat menguntungkan karena di dalamny terdapat unsure penghematan. Salak termasuk buah yang mahal. Rasanya enak, baunya harum apalagi salak Bali yang sudah terkenal itu.
Buah salak tidak tahan lama terutama dalam suhu yang panas dan pada tempat yang tertutup (catatan yang ingin mengirim salak bagi si doi di seberang). Salak cepat menjadi masakdan bosok. Dalam keadaan seperti ini harganya turun sampai 75%. Salak yang masak enak jika di setup atau dibuat asinan. Pilihlah yang baik kemudian dicuci lalu direbus dalam air gula atau garam. Untuk  asinan , kulit salak tidak usah dikupas. Cukup dicuci saja.
Mengambil salak yang masak banyak untungnya, disamping harganya murah, rasanya lebih manis dan lembut. Ini berarti penghematan. Unsur menghemat ini patut dipetik dari ungkapan tersebut. Bukanlah hemat itu pangkal kaya?
Hemat berarti perhitungan yang tepat dan terencana antara pengeluaran dan tujuan yang akan dicapaiagar dengan biaya yang sekecil mungkin diperoleh hasil yang maksimal. Hemat dan kreatif adalah modal untuk mewujudkan kesejahteraan dan masa depan yang lebih baik. Berhemat berarti displin terhadap pengeluaran sesuai dengan rencana.
Kebiasaan hidup hemat harus ditanamkan sedini mungkin sehingga mendarah daging setelah anak menjadi dewasa. Banyak godaan dalam melaksanakan kebiasaan itu tetapi inilah cara yang terbaik untuk menciptakan kemakmuran dan membangun masa depan.
Adakah pemboros yang menjadi kaya?

5 komentar:

  1. Makasih ya atas informasi yang diberikan sangat bermanfaat sekali untuk menambah pengetahuan
    salam kenal dari
    Resep Kolak kolang kaling

    BalasHapus
  2. Bisakah penulis menjelaskan knp ulat nangka, sotong, mangga, manggis, rambutan tidak memiliki mitos spt ulat salak. Sepertinya penulis berkarakter pesimis.

    BalasHapus
  3. sy sering menemukan ulat di buah salak, ketika sy ceritakan suami sy ga percaya...dan lagi sy menemukan ulat sy tunjukan ke suami sy ulatnya...stlh melihatnya ulatnya hilang, mungkin jatuh atau entahlah...hehehe

    BalasHapus
  4. Terima kasih atas informasinya

    BalasHapus