Minggu, 29 Desember 2013

Perempuan Perempuan Perkasa


                  Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang seindah-indahnya. (Q.S.At-Tîn). Keindahan itu semakin sempurna karena dihiasi dengan kelembutan, kasih sayang dan cinta sebagai ciri khas seorang perempuan. Ia bagai bunga penghias rumah, teman berkeluh-kesah, perawat ayah bunda, pendamping suami,  pendidik  pertama umat manusia, sahabat setia, rela berkorban  untuk  orang-orang tercinta, dan banyak peran yang menjadi berarti dengan kehadirannya. Demikian makna kehadiran perempuan dalam keluarganya.
                       Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana. Dia memberikan pahala sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan oleh hamba-Nya tanpa pembedaan antara laki-laki dan perempuan.   
                     Allah SWT berfirman
   وَلاَ تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ ﭐللهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا ﭐكْتَسَبُوْا  وَلِلنِّسَآءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا ﭐكْتَسَبْنَ   وَ ْﺴءَلُواﭐللهَ مِنْ فَضْلِهِ إنَّ ﭐللهَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيْمًا
      “Dan janganlah  kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para perempuan (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. “    
                                           (Q.S. An-Nisaa’ . 4 :32)
            Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hatim, Ibnu Jarir, Ibnu Mardawih dan al-Hakim dalam mustadrak-nya dari Mujahid, dia berkata bahwa Ummu Salamah berkata, “Ya Rasulullah, kami tidak dapat berperang sehingga kami pun tidak dapat mati syahid dan menghabiskan (‘ashabah) harta pusaka.” Maka diturunkanlah ayat tersebut.   
 Kemudian Allah menurunkan ayat, Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal seseorang di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.”
               Maksud firman Allah yang berbunyi :“ Bagi kaum laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan; bagi kaum wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan.”  : bahwa setiap individu memiliki balasan sesuai dengan amal yang dikerjakannya; jika amalnya baik, maka dibalas dengan kebaikan jika amalnya buruk, maka dibalas dengan dengan keburukan (Allah tidak membedakan jender). Demikian menurut pernafsiran Ibnu Jarir. (Ibnu Katsir , 700)                        
                 Allah SWT berfirman :                                 
    إنَّﭐلْمُسْلِمِيْنَ وَﭐلْمُسْلِمٰتِ وﭐﻟﻤؤمِنِيْنَ وَﭐﻟﻤؤمِنٰتِ وَﭐلْقٰنِتِيْنَ وَﭐلْقٰنِتٰتِ وَﭐلصّٰدِقِيْنَ وَﭐلصّٰدِقٰتِ وَﭐلصّٰبِرِيْنَ وَﭐلصّٰبِرٰتِ وَﭐلْخٰشِعِيْنَ وَﭐلْخٰشِعٰتِ وَﭐلْمُتَصَدِّقيْنَ وَﭐلْمُتَصَدِّقٰتِ وَاﻟﺼٰءِمِيْنَ وَاﻟﺼٰءِمٰتِ وَلْخٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَﭐلْخٰفِظٰتِ وَﭐلذّكِرِيْنَ ﭐللهَ كَثِيْرًا وَﭐلذّٰكِرٰتِ أعَدَّﭐللهُ لَهُمْ  مَّغْفِرَةً وَأجْرًا عَظِيْمًا.
           “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka  ampunan dan pahala yang besar. “    
                                           (Q.S. Al-Ahzab . 33 : 35)
                  Selanjutnya beberapa kisah yang mengagumkan dari para perempuan yang selain tugas utamanya sebagai istri dan ibu, mereka berjuang bersama kaum pria untuk menegakkan agama Islam. Allah SWT mengangkat kisah mereka dalam Al-Qur’an dan Rasulullah Saw. memuji karena keteguhan iman dan keikhlasannya, keluhuran budi dan pengabdiannya.  Para wanita tersebut adalah :   

                                                 Siti Asiyah
                             Perempuan Yang Teguh Iman”
                     Siti Asiyah adalah seorang istri yang lemah lembut penuh kasih sayang, tetapi sangat kuat dalam memegang aqidah. Asiyah yakin bahwa Allah melihat segala perbuatan makhluk-Nya. Fir’aun yang mengaku Tuhan, sangat sayang kepada permaisurinya itu. Raja Fir’aun memaksa Asiyah untuk menyembahnya. Tetapi Asiyah tetap teguh imannya kepada Allah Sub-hânahu wa Ta’âla.
                       Allah SWT berfirman :
  ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُواﭐمْرَأتَ فِرْعَوْنَ إذْ قَالَتْ رَبِّ ﭐبْنِ لِى عِنْدَكَ بَيْتًا فِى ﭐلْجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِى مِنَ ﭐلْقَوْمِ ﭐلظّٰلِمِيْنَ .
 "   Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman,ketika ia berkata, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”                                                      (Q.S. At-Tahrim , 66 : 11)

                                            Siti Maryam
                                      “ Sang Perawan Suci”
               Ibu dari Maryam sangat mengharap kelahiran anak laki-laki, agar dapat menjadi pelayan bagi orang-orang yang sedang beribadah di masjid. Ternyata yang lahir adalah seorang bayi perempuan,. Namun orang tua Maryam menerima kehadirannya dengan ikhlas. Mereka mendidiknya dengan sangat baik. Maryam pun tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan taat kepada Allah. Dengan takdir Allah, Maryam dipilih menjadi ibu bagi seorang Nabi dan Rasul yang mulia, yaitu Nabi Isa a.s. Kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an.
                      Allah SWT berfirman :
   وَإذْ قَالَتِ ﭐلْمَلاَءِﻜﺔُ يٰمَرْيَمُ إنَّ ﭐللهَ ﭐصْطَفٰكِ وَطَهَّرَكِ وَﭐصْطَفٰكِ عَلَٰى نِسَآءِ ﭐلْعَالَمِيْنَ .
Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “ Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). “  
(Q.S. Ali Imran , 3 :42)
   قَالَتْ أنَّىٰ يَكُوْنُ لِى غُلٰمٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِى بَشَرٌ وَلَمْ أكُ بَغِيًّا .
Maryam berkata, “ Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina! “ (Q.S. Marayam , 19 : 20)
   قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَىَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ ءَايَةٌ لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةٌ مِنَّا وَكَانَ أمْرًا مَقْضِيًّا .
...Tuhanmu berfirman, “ Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan. “
(Q.S. Maryam , 19 : 21)
   إذَا قَضٰى أمْرًا فَإنَّمَا يَقُوْلُ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ .
                 Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata                  “ Jadilah !”, maka jadilah ia. “ 
                                           (Q.S. Maryam , 19 :35)
   وَمَرْيَمَ ﭐبْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِى أحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِن رُّوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ ﭐلْقنِتِيْنَ .
dan Maryam puteri ‘Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab –Nya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang ta’at.” 
                                          (Q.S. At-Tahrîm, 66 :12)     

                                     Siti Khadijah r.a.
                       Lambang Ketulusan Cinta”                                  
                   Khadijah binti Khuwailid  adalah seorang wanita bangsawan kaya dan dihormati, yang mempunyai usaha dagang, mengupah orang-orang menjalankan usahanya untuk dijual ke Syam. Usahanya terus berkembang sehingga banyak pemuka Quraisy ingin melamar janda kaya itu, tetapi Khadijah manolak karena yakin bahwa mereka melamar hanya karena memandang hartanya.  
                  Tatkala  Abu Thalib mengetahui bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangannya yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam, ia menawarkan pada keponakannya Muhammad untuk bekerja pada Khadijah, dan Muhammad menyetujuinya. Abu Thalib segera menemui Khadijah lalu mengemukakan hal itu. Khadijah berkata, “Kalau permintaan itu buat orang yang jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan ; apalagi buat orang yang dekat dan aku sukai.
              Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad berhasil memperdagangkan barang-barang Khadijah dengan lebih besar keuntungannya dibandingkan yang dilakukan orang lain sebelumnya. Selain itu, banyak pengalaman berharga yang diperoleh Muhammad, antara lain menghidupkan kembali ingatannya ketika  diajak berdagang oleh pamannya Abu Thalib saat umurnya dua belas tahun. Hal ini menambah Muhammad lebih banyak berpikir tentang segala yang pernah dilihat sebelumnya, yaitu tentang peribadatan dan kepercayaan-kepercayaan di Syam, atau pasar-pasar sekeliling kota Mekah.   
             Sekembalinya ke Mekah, Muhammad melaporkan hasil perjalanan dan laba yang diperolehnya, demikian juga mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah merasa senang dan tertarik sekali mendengarkannya, apalagi ditambah dengan laporan dari Maisarah (orang kepercayaan Khadijah) tentang Muhammad, betapa halus wataknya, betapa tinggi budi pekertinya. Perhatian  Khadijah pun berubah menjadi rasa cinta kepada pemuda  yang sederhana dan jujur itu. Ketika Abu Thalib melamar untuk keponakannya, Khadijah segera menerima pinangan itu. Dari Khadijah, Nabi Muhammad Saw. memperoleh empat orang anak perempuan yaitu, Zainab, Umi Kaltsum, Ruqayyah dan Fathimah Az-Zahrah. 
              Dengan bertambahnya usia, Muhammad mulai mencari Kebenaran. Di mana gerangan kebenaran itu ? Beliau menemukan tempat yang paling baik guna mendalami pikiran dan renungan yang berkecamuk dalam dirinya. Di puncak Gunung Hira’, terletak sebuah gua yang baik sekali untuk tempat menyendiri dan tahannuth (mendekatkan diri kepada Tuhan). Khadijah dengan setia membuatkan bekal buat suaminya berkhalwat. Khadijah menyuruh pembantunya untuk membawakan makanan bagi Muhammad jika beliau beberapa hari tidak pulang. Demikian  yang dilakukan oleh Muhammad sampai turun Wahyu Pertama (610 M).
               Tibalah bulan Ramadhan. Saat itu Muhammad berumur empat puluh tahun, terjadi peristiwa bersejarah yang mengubah dunia yaitu, lahirnya Agama Islam yang membawa rahmat bagi sekalian alam.
              Muhammad sedang dalam keadaan tidur di dalam gua Hira’ ketika  datang malaikat Jibril membawa sehelai lembaran. Malaikat Jibril  memeluknya dengan kuat, lalu berkata, “Iqra’ .” ( Bacalah ! )          
         Dengan terkejut Muhammad menjawab ,” Saya tidak  bisa membaca.” 
         Malaikat Jibril  memeluk semakin keras seakan-akan mencekiknya sambil  berkata  lagi, “Iqra’” ( Bacalah ! ) .  Demikian dilakukan sampai tiga  kali, sehingga  Muhammad sulit untuk bernafas.      
       Muhammad semakin ketakutan lalu bertanya, “Apa yang akan saya  baca ?”          Kemudian Malaikat Jibril  membacakan firman Allah SWT. :
ﭐقْرَأْْ بِاسْمِ رَبِّكَ ﭐلَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ ﭐلإنْسَانَ مِنْ عَلَقِ *         ﭐقْرَأْ وَرَبُّكَ ﭐلأكْرَمُ * ﭐلّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ * عَلَّمَ ﭐلإنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمُ  *
       Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya”                                                                              (QS. Al-‘Alaq , 96 : 1-5)
          Muhammad mengucapkan bacaan itu. Kemudian Malaikat pergi setelah Wahyu Allah  terpateri dalam kalbunya. Muhammad merasa ketakutan yang amat sangat. Dadanya berdebar keras, hatinya berdenyut, tubuhnya gemetar. Ia bertanya-tanya pada dirinya, apakah yang dilihatnya ?
            Sesuatu yang hebat telah terjadi. Al-qur’an yang mulia telah turun ke dunia untuk membawa manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang. Demikian dahsyatnya Wahyu Allah, sekiranya Al-Qur’an diletakkan di atas gunung maka gunung pun akan hancur berkeping-keping sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hasyr :
   لَوْأنْزَلْنَا هٰذَا ﭐلْقُرْءَانَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَأيْتَهُ خٰشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَهِ ﭐللهِ ، وَتِلْكَ ﭐلأمْثٰلُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ .
   “ Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an itu kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takutnya kepada Allah. Dan, perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. “   
                                        (QS. Al-Hasyr, 59 : 21)
             Adapun Muhammad, setelah menerima wahyu dari malaikat Jibril,beliau resmi diangkat sebagai Rasul Allah, nabi utusan Allah.  Beliau  segera turun dari gua Hira, menyusuri celah-celah gunung. Tiba-tiba beliau mendengar ada yang memanggilnya dengan suara yang sangat dahsyat. Ketika melihat langit, memandang gunung, lembah dan kemana saja beliau mengarahkan pandangannya, yang terlihat adalah malaikat yang ditemuinya di gua dalam wujud manusia. Wajah malaikat Jibril bercahaya terang benderang. O, dialah yang memanggilnya. Setelah bayangan wajah malaikat Jibril perlahan-lahan menghilang, Nabi Muhammad pulang dengan membawa wahyu yang disampaikan kepadanya. Dadanya berdebar keras, jantungnya berdedenyut kencang. Muhammad Saw. merasa sangat ketakutan.
           Sesampainya di rumah Muhammad berkata kepada Khadijah, “ Istriku, selimuti aku ! Tubuhnya menggigil seperti dalam demam. Kemudian diceritakannya kepada Khadijah apa yang telah dilihatnya.
           Khadijah yang penuh rasa kasih sayang adalah tempat beliau menemukan rasa damai dan tenteram ke dalam hati yang penuh rasa cinta, hati yang sedang dalam kekhawatiran  dan  gelisah. Khadijah tidak memperlihatkan rasa khawatir atau rasa curiga. Bahkan dipandangnya wajah damai Muhammad Rasulullah dengan pandangan rasa hormat, seraya katanya :
            “O putra pamanku ! Bergembiralah, dan tabahkan hatimu. Demi Dia Yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Samasekali Allah takkan mencemoohkan kamu sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan, jujur dalam kata-kata, engkau yang mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu, dan menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan yang benar. “ 
             Dengan penuh kelembutan dan kasih  sayang, Khadijah menyelimuti dan menenangkan hati suaminya, lalu Muhammad pun tertidur.  Berbagai perasaan berkecamuk di hati Khadijah. Terbayang olehnya betapa  sulit  perjuangan orang yang sangat disayanginya dalam menghadapi bangsa Arab yang terkenal berwatak keras. Tak tahan menanggung persoalan itu sendiri, Khadijah segera menjumpai saudara sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dikatakan oleh Waraqah, bahwa Muhammad telah menerima wahyu Allah dan telah diangkat-Nya menjadi Rasul untuk menyiarkan agama baru.
          Khadijah pulang dengan perasaan lega.. Dilihatnya suaminya masih tidur. Tiba-tiba Muhammad Rasulullah terbangun karena didengarnya malaikat Jibril datang lagi  membawakan wahyu kepadanya .
            Allah SWT berfirman :
 يَآيُّهَاﭐلمُدَّثِّرُ * قُمْ فَأنْذِرْ * وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ * وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ * وَﭐلرُّجْزَ فَاهْجُرْ * وَلاَ تَنْنُنْ تَسْتَكْثِرُ *  وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ *  فَإذَا نُقِرَ فِى ﭐلنَّاقُورِ *  فَذٰلِكَ يَوْﻤءِذٍ يَوْمٌ عَسِيْرٌ * عَلَى ﭐلكٰفِرِيْنَ غَيْرُ يَسِيْرٍ*
           “ Hai orang yang berselimut, bangunlah , lalu berilah peringatan, Dan Tuhanmu Agungkanlah, Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak . Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah. “  
                                    (QS. Al-Muddatstsir. 74 :1-10)                                                
          Muhammad berkata, “ Wahai istriku Khadijah, waktu tidur dan istirahat sudah tidak ada lagi.. Jibril datang membawa perintah supaya aku memberi peringatan kepada manusia, mengajak mereka beribadat hanya kepada Allah. Tetapi siapa yang akan kuajak ? Dan siapa pula yang akan mendengarkan ?”
           Khadijah menjawab, “ Wahai suamiku, tidak ada keraguan sedikitpun padaku, aku mempercayaimu. Sesungguhnya apa yang dibawa oleh Malaikat kepadamu adalah wahyu Allah yang harus engkau sampaikan kepada seluruh umat manusia.” 
            Betapa berat beban yang harus dijalankan. Muhammad mulai memikirkan, bagaimana mengajak bangsa Quraisy supaya beriman padahal ia tahu benar mereka sangat kuat mempertahankan kebatilan itu. Mereka bersedia berperang dan mati untuk mempertahankan agama yang diyakini oleh nenek moyangnya secara turun temurun. Ditambah lagi bahwa bangsa Quraisy itu masih sekeluarga dan sanak famili yang dekat.
             Para pemuka Quraisy juga tidak tinggal diam. Mereka tahu bahwa Abu Thalib sangat sayang pada Muhammad. Maka mereka pun meminta Abu Thalib agar menghentikan usaha Muhammad dalam menyiarkan agama Islam. Dalam sakitnya yang parah akibat memikirkan keponakannya yang sangat disayangi, Abu Thalib memanggil Muhammad. 
            Dengan berlinang air mata, Abu Thalib berkata dengan sangat pelan seakan-akan tanpa suara pada Muhammad, “ Anakku, pemuka-pemuka Quraisy telah datang padaku dan minta agar engkau menghentikan penyebaran agama baru yang kau yakini itu.”  
             Muhammad menjawab dengan suara yang tegas, “ Wahai Pamanku, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan diletakkan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti melaksanakan perintah Tuhanku untuk menyiarkan Islam.”
            Dengan berurai air mata Abu Thalib memeluk keponakannya dipenuhi perasaan bangga. Dan selama Abu Thalib masih hidup, Muhammad terlindung dari tindakan sewenang-wenang kaum Quraisy. Muhammad pun mulai berda’wah tentang Islam : Hanya kepada Allah Yang Maha Agung menundukkan kepala! Hanya Dialah Yang Haq, hanya kepada-Nya hati manusia dihadapkan, seluruh hidup ke sana juga bergantung dan kepada-Nya pula ruh akan kembali. Maha Mulia Allah. Betapa damainya hati itu dalam jiwa. Islam adalah agama yang membawa damai.
               Dalam melaksanakan da’wah, Khadijah selalu mendampingi Rasulullah . Pada saat semua orang tidak percaya, ketika orang-orang membenci karena Muhammad membawa agama baru, dikala pemuka-pemuka Quraisy berusaha membunuhnya, Khadijah adalah wanita pertama yang beriman dan menjadi pendamping  setia  Nabi Muhammad Saw.
              Seluruh harta dan kekayaannya dikorbankan untuk mendukung perjuangan Rasulullah Saw. dalam menyiarkan Agama Islam. Dan ketika Khadijah wafat (bersamaan dengan wafatnya Abu Thalib), hilanglah dua orang yang selalu membela dan mendampingi Rasul dalam berjuang menegakkan Islam. Nabi Muhmmad sangat bersedih, sehingga tahun itu disebut Tahun Dukacita. ‘Amul- Huzn . (Setelah itu terjadilah peristiwa Isra’ Mi’raj).              
               Cinta yang tulus dan perjuangan Siti Khadijah r.a. terus melekat di hati Rasulullah Saw. sehingga membuat ‘Aisyah r.a.  cemburu. Diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. Kecemburuanku kepada istri-istri Nabi Saw. tidak sebesar kecemburuanku pada Khadijah meskipun aku tidak pernah melihatnya. “
             Terkadang aku bertanya kepada Rasulullah, “ Ya Rasulullah, engkau begitu mencintai Khadijah. Seperti di bumi ini tidak ada lagi wanita lain kecuali Khadijah.?” 
             Rasulullah menjawab, “ Demikian banyak kelebihan Khadijah, dan darinya aku memperoleh anak .” 
            Nabi Saw. sering menyebut nama Khadijah, dan setiap kali menyembelih kurban, Rasulullah menyisihkannya sebagian untuk dkirimkan kepada perempuan-perempuan sahabat Khadijah. Beliau sangat menghormati teman dan sahabat Khadijah. Demikian cinta Rasulullah kepada  Khadijah, seorang istri yang sangat tulus kepada suami.
                                                                       
                               Ibu  Para Syuhada
                     Tersebutlah  Khansa, seorang ibu  yang sangat cinta  kepada Allah. Ia mengikhlaskan empat orang anaknya mati syahid.   
                        Ia berkata, “ Maha Suci Allah yang telah menjadikan anak-anakku mati syahid. Sekiranya aku mempunyai anak lagi, maka akan kulepaskan ia berperang untuk membela agama Allah.”

                                        Srikandi Uhud
                     Perang Uhud  terjadi ada tahun ke 3 H. Dalam peperangan  yang dahsyat itu umat Islam memperoleh kemenangan sehingga kaum musyrikin lari pontang panting. Pasukan pemanah muslim melihat barang-barang yang ditinggalkan oleh pasukan musuh, beramai-ramai meninggalkan posnya untuk mengambil barang-barang tersebut padahal Nabi Muhammad Saw. telah mengistruksikan  agar tidak meninggalkan tempat. Sebagai ahli perang,  beliau dapat membaca bahwa keadaan ini sudah diatur oleh musuh agar pasukan muslim menjadi lengah dari perintah pemimpinnya.
             Benarlah apa yang diperkirakan oleh Rasulullah. Tak berapa lama kemudian, tentara berkuda musuh datang bagaikan air bah untuk merebut posisi strategis tersebut. Akibatnya , tentara muslim menjadi panic dan porak poranda. Dengan jumlah tentara yang tidak seimbang, mereka melawan pasukan berkuda itu dengan gagah berani. Pasukan muslim terdesak, Rasulullah Saw. terluka , Hamzah r.a  (pamanda Nabi)  dan 70 orang shahabat gugur sebagai syuhada. 
                     Melihat situasi yang gawat itu pasukan pengawal yang menjaga Rasulullah Saw. berjuang mati-matian karena musuh berusaha mendekat dengan tujuan untuk membunuh Nabi. Adalah seorang wanita yang bernama Nasibah binti Ka’ab yang terkenal dengan sebutan Ummu Imamah. 
                    Ummu Imamah bercerita, “ Ketika Perang Uhud sedang berkecamuk, aku keluar agak siang. Sambil membawa air dan melihat para mujahidin yang bertempur dengan gagah berani, sampai akhirnya aku menemukan Rasulullah. Saat itu aku melihat pasukan Islam kocar-kacir, maka aku mendekati Rasulullah sambil ikut berperang membentengi beliau dengan pedang, terkadang aku menggunakan panah. Aku berhadapan dengan musuh yang terlatih dan garang hingga tubuhku penuh luka terkena senjata mereka.
                      Saat melihat Rasulullah Saw. terpojok dan Ibnu Qamiah akan membunuhnya, aku membentengi beliau bersama Mas’ab bin Umair. Aku berusaha melawan Ibnu Qamiah dengan pedangku, tetapi dia memakai baju besi sehingga senjataku tidak dapat melukainya. Tiba-tiba ia memukul pundakku sampai terluka.”
                    Rasulullah selalu terkenang pada peristiwa itu . Beliau bersabda,
                “Setiap aku menoleh ke kanan dan ke kiri, kudapati Ummu Imamah dengan gagah berani membentengiku  pada Perang Uhud.”
                      Dengan pertolongan Allah pasukan muslim dapat memenangkan perang namun banyak shahabat yang gugur sebagai syuhada. Para jamaah Haji/Umrah yang berziarah ke pemakaman syuhada Uhud, disunnahkan membaca do’a bagi para syuhada yang gugur dalam menegakkan Syi’ar Islam.
                                                                                                      


                                “ Sang Sukarelawati”
                    Perang Uhud  adalah perang yang tebesar dalam sejarah Islam. Perang itu terjadi di lembah bukit Uhud, antara 700 orang tentara Muslim melawan 3000 tentara musyrikin yang terlatih. Jabal Uhud terletak 5 km dari pusat kota Madinah. Dalam pertempuran yang tidak berimbang itu, terlihat seorang perempuan membawa berkantung-kantung air minum untuk pasukan muslim. Diriwayatkan dari Tsa’labah bin Malik :
                   Suatu ketika, Khalifah ‘Umar bin Khaththab r.a. membagikan sejumlah pakaian kepada para perempuan Madinah. Tersisalah sehelai busana yang sangat bagus. Salah seorang  dari para pemberi hadiah berkata  :
                 “Wahai Amirul Mu’minin, berikanlah pakaian ini kepada istrimu, cucu perempuan Rasulullah Saw...” (yang dimaksud adalah Ummu Kultsum, adalah anak perempuan Ali bin Abi Thalib).     
                 Umar berkata “ Ummu Salith lebih berhak  (untuk memilikinya).”
                Siapakah Ummu Salith itu ?”
               Ummu Salith itu seorang sukarelawati Uhud. Ia membawa ber -kantung-kantung kulit (yang berisi air) untuk kami pada perang Uhud. “
                Ummu Salith adalah perempuan Anshar yang telah memberi bai’at (sumpah setia) kepada Rasulullah Saw. 

                                Nasihat  Di  Malam  Pengantin                                                                                                                              
                     Shahabat Kutub Tarajim bercerita tentang Fatimah Az-Zahra binti Muhammad Saw, “Suatu ketika, Fathimah tidak makan berhari-hari karena tidak ada makanan. Ali bin Abi Thalib , terkejut melihat wajah Fathimah pucat.
        Ali bin Abi Thalib bertanya, “Kenapa engkau ini wahai Fatimah? Wajahmu begitu pucat?”   
        Fatimah menjawab, “ Saya sudah tiga hari tidak makan karena tidak ada makanan di rumah.”   
            Ali bertanya lagi, “ Mengapa engkau tidak mengatakan kepadaku ?”
           Fathimah berkata, “ Ayahku Rasulullah Saw. menasihatiku di malam pengantin, jika Ali membawa makanan, makanlah. Bila tidak, maka kamu jangan meminta! “ 
        Fathimah putri Rasulullah membawa keberkatan adanya keturunan bagi keluarga Rasulullah Saw yang agung.
         Fathimah bercerita tentang pengalamannya, : Suatu hari, dengan air mata berlinang-linang Fathimah datang kepada Rasulullah. Ia minta diberikan seorang budak perempuan dari rampasan perang untuk membantu pekerjaannya. Dengan tersenyum Rasulullah Saw. memegang tangan putrinya yang sangat dicintainya.   
           Beliau bersabda, “Wahai anakku Fathimah. Mereka adalah hak para pejuang yang berperang, bukan kepunyaan ayahmu. Ketahuilah, bahwa tugas-tugas rumah tangga yang kamu kerjakan itu adalah ladang amal bagimu. “  Fathimah pulang dengan hati yang lega.

                                               Aisyah r.a.
                         “Perempuan  Paling  Beruntung
                SitiAisyah r.a. adalah wanita paling beruntung. Beliau menikah dengan Rasulullah Saw. dalam usia yang sangat muda. Pengetahuan agamanya sangat luas, karena secara langsung ia mendengar dari Rasul berbagai masalah mengenai agama Islam. Daya hafalnya sangat kuat, sehingga beliau hafal banyak hadits. Para shahabat sering bertanya kepada ‘Aisyah r.a. berbagai hal tentang Islam.
              Rasulullah Saw  pernah memuji ‘Aisyah r.a , “ Seandainya dikumpulkan ilmu seluruh wanita dibandingkan dengan ilmu ‘Aisyah, maka ilmu ‘Aisyah jauh lebih banyak. “
                ‘Aisyah r.a. dengan bangga mengatakan, bahwa Nabi Saw. dipertemukan dengan dirinya melalui mimpi. Di dalam mimpi, Nabi bertemu dengan seseorang yang berkata, “Ini adalah istrimu.”     
          Kemudian Nabi bersabda,  “ Seandainya ini berasal dari Allah, maka tentulah sesuatu yang sempurna.”
               ‘Aisyah r. a. adalah wanita yang sangat beruntung, karena beliau dapat merawat Nabi ketika sakit sampai Rasulullah Saw. wafat di atas pangkuannya.  
              Diriwayatkan dari Aisyah r.a. :
   وَعَنْهَا رَضِيَ ﭐللهُ عَنْهَا : قَالَتْ أضْغَيْثُ إلَى ﭐلنَّبِيُّ  صَلَّى ﭐللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أنْ يَمُوْتَ ، وَهُوَ مُسْنِدُ إلَيَّ ظَهْرَهُ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ : ألّٰلَهُمَّ ﭐغْفرْ لِى وَﭐرْحَمْنِى وَألْحِقْنِى بِالرَّفِيْقِ ﭐلأعْلٰى .
           “Saat itu beliau berada dalam pangkuanku. Aku mendengar beliau berkata, “Ya Allah, ampunilah aku dan limpahkanlah kasih-Mu kepadaku, dan izinkan aku menemui Kekasih Yang Maha Tinggi. “  
              Diriwayatkan  juga :     
    وَعَنْهَا رَضِيَ ﭐللهُ عَنْهَا فِى رِوَايَةِ قَالَتْ :  مَاتَ ﭐلنَّبِيُّ صَلَّى ﭐللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإنَّهُ لَبَيْنَ خَافِنَتِي وَذَافِنَتِى ، فَلاَ أكْرَهُ شِدَّةَ ﭐلْمَوْتِ ِلأحَدٍ     أبَدًا بَعْدَ ﭐلنَّبِيُّ صَلَّى ﭐللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .                                          
            “Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. : Saw.Nabi meninggal ketika beliau berada di antara dadaku dan daguku. Tak pernah kurasakan kepedihan karena meninggalnya seseorang setelah Nabi  Saw.
                                         
                             Lengan  Yang Paling Panjang
                   Zainab binti Jahsyi  adalah istri Nabi  yang sangat cantik. Nabi Saw. menyebutnya sebagai wanita yang memiliki lengan paling panjang.
                   Diriwayatkan dari ‘Aisyah r .a. :
   عَنْ عَاءِشَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أنَّ بَعْضَ أزْوَاجِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قُلْنَا لِنَبِيِّ ، أسْرَعُ بِكَ لُحُوْْقًا ؟  قَالَ : أطْوَلُكُنَّ يَدًا . فَأخَذُوْا قَصَبَةٌ يَذْرَعُوْنَهَا ، فَكَانَتْ سَوْدَةُ أطْوَلُهُنَّ يَدًا ، فَعَلِمْنَا بَعْدُ : أنَّمَا كَانَتْ طُوْلَ يَدَهَا الصَّدَقَةُ ، وَكَانَتْ أسْرَعَنَا لُحُوْقًا بِهِ ، وَكَانَتْ تُحِبُّ الصَّدَقَةَ .
           Sebagian dari istri-istri Nabi Saw. bertanya kepada Rasulullah :            “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang akan menjadi orang pertama yang menyusul Anda ?”        
           Nabi Saw. bersabda, “Yang memiliki lengan paling panjang.”
         Merekapun mengukur lengannya masing-masing dengan sebatang tongkat dan ternyata yang memiliki lengan paling panjang adalah Saudah. Ketika Zainab binti Jahsyi menjadi istri pertama wafat sepeninggal Nabi , barulah kami menyadari bahwa lengan yang panjang itu sebuah  ibarat , kiasan (tamsil) yang maksudnya adalah : mengeluarkan sedekah. Zainab binti Jahsyi terkenal sebagai wanita yang sangat mencintai sedekah semasa hidupnya. Rasulullah Saw. memujinya sebagai wanita yang memiliki lengan paling panjang.
                                   Penghuni Surga
                    Seorang wanita  hitam diuji kesabarannya dengan suatu penyakit. Ia datang kepada Rasulullah minta  dido’akan. 
                   Katanya, “ Ya Rasulullah, saya menderita  penyakit epilepsi. Auratku terbuka jika penyakitku sedang kambuh, maka do’akanlah saya.”
                    Rasulullah Saw. bersabda, “ Jika kamu sabar, itu lebih baik bagimu. Ganjaranmu adalah surga. Atau, kalau kamu mau, saya akan berdo’a kepada Allah agar kamu disembuhkan, tetapi kamu tidak mendapat surga. 
                 W anita  itu berkata, “Kalau begitu, saya akan sabar menerima ujian Allah ini. Do’akanlah saya supaya auratku  tidak tersingkap.”   Rasulullah pun mendo’akannya.
                                          Anak  Yang Berbakti”
          Inilah  kisah seorang anak perempuan yang berbakti kepada ibunya dari sebuah hadits diriwayatkan oleh Yahya Ibnu Katsir. Ia berkata, bahwa tatkala Abu Musa Al-Asy’ari dan Abu ‘Amir datang kepada Rasulullah Saw., beliau bersabda kepada mereka berdua :
   مَافَعَلْتْ إمْرَأةٌ مِنْكُمْ تُدْعٰى كَذَا وَكَذَا ؟ قَالُوْا : تَرَكْنَاهَا فِيْ أهْلِهَا قَالَ : فَإنَّهُ قَدْ غُفِرَلَهَا ، فَالُوْ : بِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : بِبِرِّهَا وَالِدَتَهَا ، قَالَ : كَانَتْ لَهَا اُمٌُّ عَجُوْزٌ كَبِيْرَةٌ ، فَجَآءَهُمُ النَّذِيْرُ أنَّ الْعَدُوَّ يُرِيْدُ أنْ يُغِيْرَعَلَيْكُمْ فَجَعَلَتْ تَحْمِلُهَا عَلَٰى ظَهْرِهَا فَإذَاأعْيَتْ وَضَعَتْهَا ثُمَّ ألْزَقَتْ بَطْنَهَا بِبَعْضِِ اُمِّهَا وَجَعَلَتْ رِجْلَيْهَا تَحْتَ رِجْلَيْ اُمِّهَا مِنَ الرَّمْضَاءِ حَتّٰى نَجَتْ .
       “Apa yang sedang dilakukan seorang wanita yang bernama si Anu iu?.  
       Mereka menjawab, “Kami tinggalkan dia berada dalam lingkungan keluarganya (suaminya).” 
         Rasulullah Saw. bersabda, “ Sesungguhnya dia telah mendapat ampunan dari Allah.”    
         Mereka bertanya, ” Mengapa wahai Rasulullah dia mendapat ampunan?”                  Rasulullah menjawab, “ Berkat baktinya terhadap ibunya.”
       Selanjutnya Yahya (rawi hadits itu) meneruskan riwayatnya : “Wanita itu mempunyai ibu yang sudah lanjut usia, pada suatu hari ada pengumuman darurat yang mengatakan bahwa musuh akan datang menyerang. Segera wanita itu menggendong ibunya di pundaknya. Apabila ia merasa lelah, ibunya ditempelkan ke perutnya sehingga perut bertemu dengan perut, dan kaki ibunya diletakkannya di atas kakinya agar ibunya merasa nyaman. Padang Sahara pada waktu itu sangat panas. Ia lakukan demikian hingga selamat dari ancaman musuh.” 
           * Di Indonesia juga banyak terdapat wanita yang patut diteladani karena perjuangnya  untuk mengusir penjajah dari bumi Ibu Pertiwi; para wanita yang berjuang di bidang politik, di bidang pergerakan wanita, di pendidikan dan bidang-bidang lainnya dalam upaya mencerdaskan kehidupan  bangsa. Para wanita teladan itu antara lain :
                                    RA.Kartini
                        “Pelopor Emansipasi Wanita”                               
                     R.A.Kartini dikenal sebagai pahlawan nasional, pejuang dan perintis kemajuan bangsa Indonesia umumnya, dan kaum wanita khususnya. Beliau adalah puteri Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Sosroningrat, cucu dari seorang Kiyai (pemuka agama Islam) di Teluk Alur. R.A.Kartini mendapat pendidikan agama yang ternyata memberi dorongan dan inspirasi untuk berjuang mengubah dan memperbaiki struktur serta system sosial budaya yang ada pada waktu itu, serta tidak sesuai dengan norma agama dan hati nurani beliau yang tidak menguntungkan kaum wanita.
                      Perjuangan R.A.Kartini yang sangat menonjol adalah dalam bidang emansipasi wanita, pendidikan dan cita-cita kebangsaan berupa kemerdekaan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Untuk mewujudkan cita-cita perjuangan mencerdaskan bangsa dan kaumnya, R.A.Kartini mendirikan sekolah bagi gadis-gadis dan melaksanakan pemberantasan buta huruf di lingkungan kaum wanita. Beliau memberikan kursus-kursus keterampilan, seperti kerajinan membuat ukiran, jahit-menjahit, membatik, dan lain-lain serta mengusahakan pemasarannya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya kaum wanita.
                    Keinginan R.A.Kartini untuk bersekolah ke negeri Belanda sangat besar. Karena berbagai kendala, cita-cita itu tidak dapat diwujudkan. Keinginan tersebut diungkapkan dalam surat yang dikirim kepada sahabatnya Ny. Abendanon dan Stella. Surat-surat itu dikumpulkan menjadi sebuah buku, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul : “Habis Gelap Terbitlah Terang”
                    Perjuangan RA.Kartini ternyata berhasil menempatkan   kedudukan dan peranan wanita Indonesia sejajar dengan kaum pria, terutama dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan bidang lainnya. Alhamdulillah, sekarang bermunculan Kartini-Kartini Indonesia yang siap membangun bangsa dan negara sesuai dengan bidang keahliannya.
                                 Cut Nyak Dien
               “Pahlawan Wanita Dari Negeri Rencong”       
             Salah seorang pahlawan wanita Indonesia yang cukup dikenal kepatriotannya membela tanah air Indonesia adalah Cut Nyak Dien. Beliau adalah pejuang yang tidak kenal kompromi dan pantang menyerah terhadap penjajah Belanda yang menguasai Aceh. Cut Nyak Dien berjuang bersama-sama dengan suaminya Teuku Umar, seorang pahlawan nasional yang gagah berani.
             Dalam mengadakan perlawanan terhadap Belanda, Cut Nyak Dien mengadakan taktik bergerilya, bersembunyi di dalam hutan atau daerah yang tidak mudah ditemui Belanda. Namun karena ada salah seorang kepercayaannya yang berkhianat, maka tempat persembunyian Cut Nyak Dien dan pasukannya diketahui Belanda. Pada saat Belanda hendak menangkap beliau, Cut nyak Dien mengadakan perlawanan, menghunus senjata rencong” (senjata orang Aceh) ke arah musuh, walaupun akhirnya Cut Nyak Dien berhasil ditangkap. Untuk mematahkan perlawanannya, pemerintah Belanda mengasingkan Cut Nyak Dien ke daerah Jawa Barat, di kota Sumedang, sampai   beliau wafat pada tahun 1908. 

                                     Rasuna Said
                               “Srikandi Indonesia“                                                  
              Wanita Islam Indoesia yang cukup dikenal sebagai tokoh ulama, politikus, pendidik, wartawan dan pengusaha adalah Rasuna Said. Beliau aktif berjuang dalam bidang pendidikan dan pergerakan kebangsaan.
               Dalam bidang pendidikan, beliau selama belasan tahun menjadi guru dan mendirikan sekolah putri Islam. Cita-cita pergerakan kebangsaan disalurkan melalui Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII). Kemudian beliau berjuang melalui partai politik Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Kegiatannya dalam partai membuktikan keberanian dan kepatriotan seorang pejuang wanita Islam Indonesia, sampai beliau mendapat julukan “Srikandi Indonesia”, pejuang yang pertama masuk penjara pemerintah kolonial.
              Rasuna Said ikut membentuk Komite Nasional Sumatera Barat, disamping Dewan Perwakilan Negeri, menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera Barat, Front Pertahanan Nasional Pusat (FPN), Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) serta Badan Pekerja KNIP.
               Setelah pindah ke Jawa Barat, beliau ikut aktif dalam organisasi Persatuan Wanita Republik Indonesia (PERWARI), TH 1950 beliau diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera (DPRS), menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sampai akhir hayatnya. Beliau dimakamkan di Taman makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.                         
                                          Nyai Ahmad Dahlan
                              “Ibu Muhammadiyah”                                                    
            Nyai Ahmad Dahlan nama kecilnya Siti Walidah, adalah puteri Kyai Muhammad Fadhli, Penghulu Kraton Yogyakarta. Suaminya, Kyai Haji Ahmad Dahlan, adalah pendiri Muhammadyah pada tanggal 18 November 1912. Nyai Ahmad Dahlan membangun bagian wanitanya pada tahun 1914 dengan nama “Sopo Tresno”, kemudian pada tahun 1917diubah menjadi Aisyiyah. Nyi Ahmad Dahlan dengan setia mendampingi dan memberi dorongan kepada suaminya (Kyai Haji Ahmad Dahlan) dalam membina dan mengembangkan Muhammadiyah. Karena itulah beliau disebut Ibu Muhammadiyah.
               Tahun 1926  dalam sidang khusus Muktamar Aisyiyah ke 15 yang dipimpin oleh Nyai Ahmad Dahlan, mulai dipergunakan bahasa Melayu di samping bahasa Daerah. Dua tahun kemudian dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 bahasa (Melayu) tersebut diikrarkan menjadi bahasa Persatuan (Bahasa Indonesia). Aisyiyah juga merupakan salah satu pemrakarsa Kongres Perempuan Indonesia Pertama pada tanggal 22 Desember sampai 25 Desember 1928 (pada perkembangan selanjutnya, tanggal 22 Desember ditetapkan  sebagai Hari Ibu).
                Dalam Tabligh Akbar di Purwokerto, Nyai Ahmad Dahlan mendorong tumbuhnya kepanduan Muhammadiyah yang bernama Hizbul Wathan di bawah pimpinan Sudirman (yang kemudian menjadi Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia). Nyai Ahmad Dahlan adalah pelopor berdirinya Pondok Pesantren untuk puteri sebagai pusat latihan kader santri dan ulama, mendirikan sekolah-sekolah umum yang sekarang tersebar di seluruh tanah air.
                                      Dewi Sartika
                                  “Juragan Dewi”
           Dewi Sartika terkenal sebagai “Juragan Dewi” adalah putrid dari Raden Sumanegara dan Raden Ayu Raja Permas. Sejak umur belasan tahun ia sudah bercita-cita untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak gadis dari kalangan bangsawan dan rakyat jelata. Berkat kerja kerasa dan dorongan dari Bupati Bndung, R.A.A.Martanegara dan seorang warga Negara Belanda, Den Hamer (Inspektur Kantor Penagajaran) maka pada tanggal 16 Januari 1904 terlaksanalah sebagain kecil dari cita-citanya, yaitu membuka sekolah bagi anak-anak gadis yang diberi nama “Sekolah Istri”. Pada tahun 1910 perkembangan menuntut perubahan dari Sekolah Istri menjadi “Sekolah Keutamaan Istri” yang diharapkan dapat menghasilkan murid-murid untuk siap menghadapi tantangan rumah tangga setelah menikah. Usaha Dewi Sartika menarik perhatian wanita-wanita lain di beberapa Kabupaten, antara lain Garut, Tasikmalaya, Purwakarta dan kabupaten-kabupaten lain di Jawa Barat.
             Sekolah “Keutamaan Istri” makin banyak peminatnya. Pada tahun 1929 atas usul Dewi Sartika kepada pemerintah, didirikanlah sebuah gedung sekolah baru yang diberi nama “Sekolah Raden Dewi”. Sampai akhir hayatnya, Dewi Sartika terus berjuang untuk memajukan pendidikan, terutama sekolah-sekolah yang didirikannya. Masih banyak lagi wanita teladan yang berjuang di berbagai bidang. Perempuan yang dianggap sebagai makhluk lemah dan kehadirannya kurang diharap, ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa. Demikian peran dan jasa para wanita itu,  Luhur dan Agung untuk membangun dunia, maka ucapkanlah :   
                          “Alhamdululillah, anakku perempuan”