Allah menciptakan manusia dalam bentuk
yang seindah-indahnya. (Q.S.At-Tîn). Keindahan itu semakin sempurna karena
dihiasi dengan kelembutan, kasih sayang dan cinta sebagai ciri khas seorang
perempuan. Ia bagai bunga penghias rumah, teman berkeluh-kesah, perawat
ayah bunda, pendamping suami, pendidik pertama umat manusia, sahabat setia, rela
berkorban untuk orang-orang tercinta, dan banyak peran yang menjadi
berarti dengan kehadirannya. Demikian makna kehadiran perempuan dalam
keluarganya.
Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana. Dia memberikan pahala sesuai dengan
amal perbuatan yang dilakukan oleh hamba-Nya tanpa pembedaan antara laki-laki
dan perempuan.
Allah SWT berfirman
وَلاَ تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ ﭐللهُ بِهِ بَعْضَكُمْ
عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا ﭐكْتَسَبُوْا وَلِلنِّسَآءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا ﭐكْتَسَبْنَ وَ ْﺴءَلُواﭐللهَ مِنْ فَضْلِهِ إنَّ ﭐللهَ
بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيْمًا
“Dan janganlah kamu iri hati
terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari
sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa
yang mereka usahakan, dan bagi para perempuan (pun) ada bahagian dari apa yang
mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. “
(Q.S.
An-Nisaa’ . 4 :32)
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hatim, Ibnu Jarir, Ibnu
Mardawih dan al-Hakim dalam mustadrak-nya dari Mujahid, dia berkata bahwa Ummu Salamah berkata, “Ya Rasulullah, kami tidak dapat berperang sehingga kami pun tidak dapat
mati syahid dan menghabiskan (‘ashabah) harta pusaka.” Maka diturunkanlah ayat
tersebut.
Kemudian Allah menurunkan ayat, “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan
amal seseorang di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.”
Maksud firman Allah yang berbunyi :“ Bagi kaum laki-laki ada
bagian dari apa yang mereka usahakan; bagi kaum wanita ada bagian dari apa yang
mereka usahakan.” : bahwa setiap individu memiliki balasan
sesuai dengan amal yang dikerjakannya; jika amalnya baik, maka dibalas dengan
kebaikan jika amalnya buruk, maka dibalas dengan dengan keburukan (Allah tidak
membedakan jender). Demikian menurut pernafsiran Ibnu Jarir. (Ibnu Katsir ,
700)
Allah SWT berfirman :
إنَّﭐلْمُسْلِمِيْنَ وَﭐلْمُسْلِمٰتِ
وﭐﻟﻤؤمِنِيْنَ وَﭐﻟﻤؤمِنٰتِ وَﭐلْقٰنِتِيْنَ وَﭐلْقٰنِتٰتِ وَﭐلصّٰدِقِيْنَ وَﭐلصّٰدِقٰتِ
وَﭐلصّٰبِرِيْنَ وَﭐلصّٰبِرٰتِ وَﭐلْخٰشِعِيْنَ وَﭐلْخٰشِعٰتِ وَﭐلْمُتَصَدِّقيْنَ
وَﭐلْمُتَصَدِّقٰتِ وَاﻟﺼٰءِمِيْنَ وَاﻟﺼٰءِمٰتِ وَلْخٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَﭐلْخٰفِظٰتِ
وَﭐلذّكِرِيْنَ ﭐللهَ كَثِيْرًا وَﭐلذّٰكِرٰتِ أعَدَّﭐللهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَأجْرًا عَظِيْمًا.
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang
muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang
bersedekah, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan
perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan
perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan
perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya,
laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan
untuk mereka ampunan dan pahala yang
besar. “
(Q.S.
Al-Ahzab . 33 : 35)
Selanjutnya beberapa kisah yang mengagumkan
dari para perempuan yang selain tugas utamanya sebagai istri dan ibu, mereka
berjuang bersama kaum pria untuk menegakkan agama Islam. Allah SWT mengangkat
kisah mereka dalam Al-Qur’an dan Rasulullah Saw. memuji karena keteguhan iman
dan keikhlasannya, keluhuran budi dan pengabdiannya. Para wanita tersebut adalah :
Siti Asiyah
“ Perempuan Yang Teguh Iman”
Siti Asiyah adalah seorang
istri yang lemah lembut penuh kasih sayang, tetapi sangat kuat dalam memegang
aqidah. Asiyah yakin bahwa Allah melihat segala perbuatan makhluk-Nya. Fir’aun
yang mengaku Tuhan, sangat sayang kepada permaisurinya itu. Raja Fir’aun memaksa
Asiyah untuk menyembahnya. Tetapi Asiyah tetap teguh imannya kepada Allah Sub-hânahu
wa Ta’âla.
Allah SWT berfirman :
ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُواﭐمْرَأتَ فِرْعَوْنَ إذْ قَالَتْ
رَبِّ ﭐبْنِ لِى عِنْدَكَ بَيْتًا فِى ﭐلْجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِنْ فِرْعَوْنَ
وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِى مِنَ ﭐلْقَوْمِ ﭐلظّٰلِمِيْنَ .
"
Allah membuat istri Fir’aun
perumpamaan bagi orang-orang yang beriman,ketika ia berkata, “Ya Tuhanku,
bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan
selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”
(Q.S. At-Tahrim , 66 : 11)
Siti Maryam
“ Sang
Perawan Suci”
Ibu dari Maryam sangat
mengharap kelahiran anak laki-laki, agar dapat menjadi pelayan bagi orang-orang
yang sedang beribadah di masjid. Ternyata yang lahir adalah seorang bayi
perempuan,. Namun orang tua Maryam menerima kehadirannya dengan ikhlas. Mereka mendidiknya
dengan sangat baik. Maryam pun tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan
taat kepada Allah. Dengan takdir Allah, Maryam dipilih menjadi ibu bagi seorang
Nabi dan Rasul yang mulia, yaitu Nabi Isa a.s. Kisahnya
diabadikan dalam Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman :
وَإذْ قَالَتِ ﭐلْمَلاَءِﻜﺔُ يٰمَرْيَمُ إنَّ ﭐللهَ ﭐصْطَفٰكِ وَطَهَّرَكِ
وَﭐصْطَفٰكِ عَلَٰى نِسَآءِ ﭐلْعَالَمِيْنَ .
Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “ Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan
melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). “
(Q.S. Ali Imran , 3 :42)
قَالَتْ أنَّىٰ يَكُوْنُ لِى غُلٰمٌ وَلَمْ
يَمْسَسْنِى بَشَرٌ وَلَمْ أكُ بَغِيًّا .
Maryam berkata, “ Bagaimana akan ada bagiku seorang
anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku
bukan (pula) seorang pezina! “ (Q.S. Marayam , 19 : 20)
قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَىَّ هَيِّنٌ
وَلِنَجْعَلَهُ ءَايَةٌ لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةٌ مِنَّا وَكَانَ أمْرًا مَقْضِيًّا .
...Tuhanmu
berfirman, “ Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan
agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari
Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan. “
(Q.S. Maryam , 19 : 21)
إذَا قَضٰى
أمْرًا فَإنَّمَا يَقُوْلُ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ .
“ Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata “ Jadilah !”, maka jadilah ia. “
(Q.S. Maryam , 19 :35)
وَمَرْيَمَ ﭐبْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِى أحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا
فِيْهِ مِن رُّوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ
ﭐلْقنِتِيْنَ .
“ dan Maryam puteri ‘Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami
tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan
kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab –Nya, dan adalah dia termasuk
orang-orang yang ta’at.”
(Q.S. At-Tahrîm, 66 :12)
Siti Khadijah r.a.
“Lambang Ketulusan Cinta”
Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita bangsawan kaya dan
dihormati, yang mempunyai usaha dagang, mengupah orang-orang menjalankan
usahanya untuk dijual ke Syam. Usahanya terus berkembang sehingga banyak pemuka
Quraisy ingin melamar janda kaya itu, tetapi Khadijah manolak karena yakin
bahwa mereka melamar hanya karena memandang hartanya.
Tatkala Abu Thalib mengetahui bahwa Khadijah sedang
menyiapkan perdagangannya yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam, ia
menawarkan pada keponakannya Muhammad untuk bekerja pada Khadijah, dan Muhammad
menyetujuinya. Abu Thalib segera menemui Khadijah lalu mengemukakan hal itu.
Khadijah berkata, “Kalau permintaan itu buat orang
yang jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan ; apalagi buat orang yang dekat
dan aku sukai. “
Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad
berhasil memperdagangkan barang-barang Khadijah dengan lebih besar
keuntungannya dibandingkan yang dilakukan orang lain sebelumnya. Selain itu,
banyak pengalaman berharga yang diperoleh Muhammad, antara lain menghidupkan
kembali ingatannya ketika diajak
berdagang oleh pamannya Abu Thalib saat umurnya dua belas tahun. Hal ini
menambah Muhammad lebih banyak berpikir tentang segala yang pernah dilihat
sebelumnya, yaitu tentang peribadatan dan kepercayaan-kepercayaan di Syam, atau
pasar-pasar sekeliling kota Mekah.
Sekembalinya ke
Mekah, Muhammad melaporkan hasil perjalanan dan laba yang
diperolehnya, demikian juga mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah
merasa senang dan tertarik sekali mendengarkannya, apalagi ditambah dengan
laporan dari Maisarah (orang kepercayaan Khadijah) tentang Muhammad, betapa
halus wataknya, betapa tinggi budi pekertinya. Perhatian Khadijah pun berubah menjadi rasa cinta kepada pemuda yang sederhana dan jujur itu.
Ketika Abu Thalib melamar untuk
keponakannya, Khadijah segera menerima pinangan itu. Dari
Khadijah, Nabi Muhammad Saw. memperoleh empat orang anak perempuan yaitu, Zainab,
Umi Kaltsum, Ruqayyah dan Fathimah Az-Zahrah.
Dengan bertambahnya
usia, Muhammad mulai mencari Kebenaran. Di mana gerangan kebenaran itu ? Beliau
menemukan tempat yang paling baik guna mendalami pikiran dan renungan yang
berkecamuk dalam dirinya. Di puncak Gunung Hira’, terletak sebuah gua yang baik
sekali untuk tempat menyendiri dan tahannuth (mendekatkan diri kepada Tuhan). Khadijah dengan
setia membuatkan bekal buat suaminya berkhalwat. Khadijah menyuruh pembantunya
untuk membawakan makanan bagi Muhammad jika beliau beberapa hari tidak pulang.
Demikian yang dilakukan oleh Muhammad
sampai turun Wahyu Pertama (610 M).
Tibalah bulan Ramadhan. Saat itu Muhammad berumur empat puluh tahun, terjadi peristiwa
bersejarah yang mengubah dunia yaitu, lahirnya Agama Islam yang membawa rahmat
bagi sekalian alam.
Muhammad sedang dalam keadaan tidur di dalam gua Hira’
ketika datang malaikat Jibril membawa
sehelai lembaran. Malaikat Jibril memeluknya dengan kuat, lalu berkata, “Iqra’ .”
( Bacalah ! )
Dengan terkejut Muhammad menjawab ,” Saya
tidak bisa membaca.”
Malaikat Jibril memeluk semakin keras seakan-akan mencekiknya
sambil berkata lagi, “Iqra’” ( Bacalah ! ) . Demikian
dilakukan sampai tiga
kali, sehingga Muhammad sulit untuk bernafas.
Muhammad
semakin ketakutan lalu bertanya, “Apa yang akan saya
baca ?” Kemudian Malaikat Jibril membacakan firman Allah SWT. :
ﭐقْرَأْْ بِاسْمِ رَبِّكَ ﭐلَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ ﭐلإنْسَانَ
مِنْ عَلَقِ * ﭐقْرَأْ وَرَبُّكَ ﭐلأكْرَمُ
* ﭐلّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ * عَلَّمَ ﭐلإنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمُ *
” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan kalam. Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya” (QS. Al-‘Alaq , 96 : 1-5)
Muhammad mengucapkan
bacaan itu. Kemudian Malaikat pergi setelah Wahyu Allah terpateri dalam kalbunya. Muhammad merasa
ketakutan yang amat sangat. Dadanya berdebar keras, hatinya berdenyut, tubuhnya
gemetar. Ia bertanya-tanya pada dirinya, apakah yang dilihatnya ?
Sesuatu yang hebat telah terjadi.
Al-qur’an yang mulia telah turun ke dunia untuk membawa manusia dari kegelapan
kepada alam yang terang benderang. Demikian dahsyatnya Wahyu Allah, sekiranya
Al-Qur’an diletakkan di atas gunung maka gunung pun akan hancur berkeping-keping
sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hasyr :
لَوْأنْزَلْنَا هٰذَا ﭐلْقُرْءَانَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَأيْتَهُ خٰشِعًا
مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَهِ ﭐللهِ ،
وَتِلْكَ ﭐلأمْثٰلُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ .
“ Kalau sekiranya Kami menurunkan
Al-Qur’an itu kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah
disebabkan takutnya kepada Allah. Dan, perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat
untuk manusia supaya mereka berpikir. “
(QS. Al-Hasyr, 59 : 21)
Adapun Muhammad, setelah menerima
wahyu dari malaikat Jibril,beliau resmi diangkat sebagai Rasul Allah, nabi
utusan Allah. Beliau segera turun dari gua Hira, menyusuri celah-celah gunung. Tiba-tiba beliau
mendengar ada yang memanggilnya dengan suara yang sangat dahsyat. Ketika
melihat langit, memandang gunung, lembah dan kemana saja beliau mengarahkan pandangannya,
yang terlihat adalah malaikat yang ditemuinya di gua dalam wujud manusia. Wajah
malaikat Jibril bercahaya terang benderang. O, dialah yang memanggilnya.
Setelah bayangan wajah malaikat Jibril perlahan-lahan menghilang, Nabi Muhammad
pulang dengan membawa wahyu yang disampaikan kepadanya. Dadanya berdebar keras,
jantungnya berdedenyut kencang. Muhammad Saw. merasa sangat ketakutan.
Sesampainya di rumah
Muhammad berkata kepada Khadijah, “ Istriku, selimuti aku !“ Tubuhnya menggigil seperti dalam demam. Kemudian
diceritakannya kepada Khadijah apa yang telah dilihatnya.
Khadijah yang penuh
rasa kasih sayang adalah tempat beliau menemukan rasa damai dan tenteram ke
dalam hati yang penuh rasa cinta, hati yang sedang dalam kekhawatiran dan gelisah. Khadijah tidak memperlihatkan rasa
khawatir atau rasa curiga. Bahkan dipandangnya wajah damai Muhammad Rasulullah dengan
pandangan rasa hormat, seraya katanya :
“O putra pamanku !
Bergembiralah, dan tabahkan hatimu. Demi Dia Yang memegang hidup Khadijah, aku
berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Samasekali Allah
takkan mencemoohkan kamu sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan,
jujur dalam kata-kata, engkau yang mau memikul beban orang lain dan menghormati
tamu, dan menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan yang benar. “
Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, Khadijah menyelimuti dan menenangkan
hati suaminya, lalu Muhammad pun tertidur. Berbagai
perasaan berkecamuk di hati Khadijah. Terbayang olehnya betapa sulit
perjuangan orang yang sangat disayanginya dalam menghadapi bangsa Arab
yang terkenal berwatak keras. Tak tahan menanggung persoalan itu sendiri,
Khadijah segera menjumpai saudara sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal.
Dikatakan oleh Waraqah, bahwa Muhammad telah menerima wahyu Allah dan telah
diangkat-Nya menjadi Rasul untuk menyiarkan agama baru.
Khadijah pulang dengan
perasaan lega.. Dilihatnya suaminya masih tidur.
Tiba-tiba Muhammad Rasulullah terbangun karena didengarnya malaikat Jibril datang
lagi membawakan wahyu kepadanya .
Allah SWT berfirman :
يَآيُّهَاﭐلمُدَّثِّرُ
* قُمْ فَأنْذِرْ * وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ * وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ * وَﭐلرُّجْزَ
فَاهْجُرْ * وَلاَ تَنْنُنْ تَسْتَكْثِرُ *
وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ * فَإذَا
نُقِرَ فِى ﭐلنَّاقُورِ * فَذٰلِكَ
يَوْﻤءِذٍ يَوْمٌ عَسِيْرٌ * عَلَى ﭐلكٰفِرِيْنَ غَيْرُ يَسِيْرٍ*
“ Hai orang yang berselimut, bangunlah , lalu
berilah peringatan, Dan Tuhanmu Agungkanlah, Dan pakaianmu bersihkanlah, dan
perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi
(dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak . Dan untuk (memenuhi
perintah) Tuhanmu, bersabarlah. Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah
waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang
kafir lagi tidak mudah. “
(QS. Al-Muddatstsir. 74
:1-10)
Muhammad berkata, “ Wahai
istriku Khadijah, waktu tidur dan istirahat sudah tidak ada lagi.. Jibril
datang membawa perintah supaya aku memberi peringatan kepada manusia, mengajak
mereka beribadat hanya kepada Allah. Tetapi siapa yang akan kuajak ? Dan siapa
pula yang akan mendengarkan ?”
Khadijah menjawab, “ Wahai suamiku, tidak ada keraguan sedikitpun padaku, aku
mempercayaimu. Sesungguhnya apa yang dibawa oleh Malaikat kepadamu adalah wahyu
Allah yang harus engkau sampaikan kepada seluruh umat manusia.”
Betapa berat beban yang harus dijalankan. Muhammad
mulai memikirkan, bagaimana mengajak bangsa Quraisy supaya beriman padahal ia
tahu benar mereka sangat kuat mempertahankan kebatilan itu. Mereka bersedia
berperang dan mati untuk mempertahankan agama yang diyakini oleh nenek moyangnya
secara turun temurun. Ditambah lagi bahwa bangsa Quraisy itu masih sekeluarga
dan sanak famili yang dekat.
Para pemuka Quraisy
juga tidak tinggal diam. Mereka tahu bahwa Abu Thalib sangat sayang pada Muhammad.
Maka mereka pun meminta Abu Thalib agar menghentikan usaha Muhammad dalam menyiarkan
agama Islam. Dalam sakitnya yang parah akibat memikirkan keponakannya yang
sangat disayangi, Abu Thalib memanggil Muhammad.
Dengan berlinang air
mata, Abu Thalib berkata dengan sangat pelan seakan-akan tanpa suara pada
Muhammad, “ Anakku, pemuka-pemuka Quraisy telah datang padaku dan minta agar
engkau menghentikan penyebaran agama baru yang kau yakini itu.”
Muhammad menjawab
dengan suara yang tegas, “ Wahai Pamanku, seandainya matahari diletakkan di
tangan kananku dan bulan diletakkan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti
melaksanakan perintah Tuhanku untuk menyiarkan Islam.”
Dengan berurai air mata Abu Thalib memeluk keponakannya dipenuhi perasaan
bangga. Dan selama Abu Thalib masih hidup, Muhammad terlindung dari tindakan
sewenang-wenang kaum Quraisy. Muhammad pun mulai berda’wah tentang Islam : Hanya kepada
Allah Yang Maha Agung menundukkan kepala! Hanya Dialah Yang Haq, hanya
kepada-Nya hati manusia dihadapkan, seluruh hidup ke sana juga bergantung dan
kepada-Nya pula ruh akan kembali. Maha Mulia Allah. Betapa damainya hati itu
dalam jiwa. Islam adalah agama yang membawa damai.
Dalam melaksanakan da’wah, Khadijah selalu mendampingi
Rasulullah . Pada saat semua orang tidak percaya, ketika orang-orang membenci
karena Muhammad membawa
agama baru, dikala pemuka-pemuka Quraisy berusaha membunuhnya, Khadijah adalah
wanita pertama yang beriman dan menjadi pendamping setia Nabi
Muhammad Saw.
Seluruh harta dan
kekayaannya dikorbankan untuk mendukung perjuangan Rasulullah Saw. dalam
menyiarkan Agama Islam. Dan ketika Khadijah wafat (bersamaan dengan wafatnya
Abu Thalib), hilanglah dua orang yang selalu membela dan mendampingi Rasul
dalam berjuang menegakkan Islam. Nabi Muhmmad sangat
bersedih, sehingga tahun itu disebut Tahun Dukacita. ‘Amul- Huzn .
(Setelah itu terjadilah peristiwa Isra’ Mi’raj).
Cinta yang tulus dan perjuangan Siti Khadijah r.a.
terus melekat di hati Rasulullah Saw. sehingga membuat ‘Aisyah r.a. cemburu. Diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. “ Kecemburuanku kepada
istri-istri Nabi Saw. tidak sebesar kecemburuanku pada Khadijah meskipun aku
tidak pernah melihatnya. “
Terkadang aku bertanya kepada
Rasulullah, “ Ya Rasulullah, engkau begitu mencintai Khadijah. Seperti di bumi ini
tidak ada lagi
wanita lain kecuali Khadijah.?”
Rasulullah menjawab, “ Demikian
banyak kelebihan Khadijah, dan darinya aku memperoleh anak .”
Nabi Saw. sering
menyebut nama Khadijah, dan setiap kali menyembelih kurban, Rasulullah
menyisihkannya sebagian untuk dkirimkan kepada perempuan-perempuan sahabat
Khadijah. Beliau sangat menghormati teman dan sahabat Khadijah. Demikian cinta
Rasulullah kepada Khadijah, seorang
istri yang sangat tulus kepada
suami.
“Ibu Para Syuhada”
Tersebutlah Khansa, seorang ibu yang sangat cinta kepada Allah. Ia mengikhlaskan empat orang
anaknya mati syahid.
Ia berkata, “ Maha Suci
Allah yang telah menjadikan anak-anakku mati syahid. Sekiranya aku mempunyai
anak lagi, maka akan kulepaskan ia berperang untuk membela agama Allah.”
“ Srikandi Uhud ”
Perang Uhud terjadi ada
tahun ke 3 H. Dalam peperangan yang dahsyat
itu umat Islam memperoleh kemenangan sehingga kaum musyrikin lari pontang
panting. Pasukan pemanah muslim melihat barang-barang yang ditinggalkan oleh
pasukan musuh, beramai-ramai meninggalkan posnya untuk mengambil barang-barang
tersebut padahal Nabi Muhammad Saw. telah mengistruksikan agar tidak meninggalkan tempat. Sebagai ahli
perang, beliau dapat membaca bahwa keadaan
ini sudah diatur oleh musuh agar pasukan muslim menjadi lengah dari perintah
pemimpinnya.
Benarlah
apa yang diperkirakan oleh Rasulullah. Tak berapa lama kemudian, tentara
berkuda musuh datang bagaikan air bah untuk merebut posisi strategis tersebut. Akibatnya
, tentara muslim menjadi panic dan porak poranda. Dengan jumlah tentara yang
tidak seimbang, mereka melawan pasukan berkuda itu dengan gagah berani. Pasukan
muslim terdesak, Rasulullah Saw. terluka , Hamzah r.a (pamanda Nabi)
dan 70 orang shahabat gugur sebagai syuhada.
Melihat situasi yang gawat itu pasukan pengawal yang menjaga Rasulullah Saw. berjuang
mati-matian karena musuh berusaha mendekat dengan tujuan untuk membunuh Nabi. Adalah
seorang wanita yang bernama Nasibah binti Ka’ab yang terkenal dengan sebutan
Ummu Imamah.
Ummu Imamah bercerita, “ Ketika Perang Uhud sedang
berkecamuk, aku keluar agak siang. Sambil membawa air dan melihat para mujahidin
yang bertempur dengan gagah berani, sampai akhirnya aku menemukan Rasulullah.
Saat itu aku melihat pasukan Islam kocar-kacir, maka aku mendekati Rasulullah
sambil ikut berperang membentengi beliau dengan pedang, terkadang aku
menggunakan panah. Aku berhadapan dengan musuh yang terlatih dan garang hingga
tubuhku penuh luka terkena senjata mereka.”
“ Saat
melihat Rasulullah Saw. terpojok dan Ibnu Qamiah akan membunuhnya, aku
membentengi beliau bersama Mas’ab bin Umair. Aku berusaha melawan Ibnu Qamiah
dengan pedangku, tetapi dia memakai baju besi sehingga senjataku tidak dapat
melukainya. Tiba-tiba ia memukul pundakku sampai terluka.”
Rasulullah selalu terkenang pada peristiwa itu . Beliau bersabda,
“Setiap
aku menoleh ke kanan dan ke kiri, kudapati Ummu Imamah dengan gagah berani
membentengiku pada Perang Uhud.”
Dengan pertolongan Allah pasukan muslim dapat memenangkan perang namun
banyak shahabat yang gugur sebagai syuhada. Para jamaah Haji/Umrah yang
berziarah ke pemakaman syuhada Uhud, disunnahkan membaca do’a bagi para syuhada
yang gugur dalam menegakkan Syi’ar Islam.
“ Sang Sukarelawati”
Perang Uhud adalah perang yang tebesar dalam
sejarah Islam. Perang itu terjadi di lembah bukit Uhud, antara 700 orang
tentara Muslim melawan 3000 tentara musyrikin yang terlatih. Jabal Uhud
terletak 5 km dari pusat kota Madinah. Dalam pertempuran yang tidak berimbang
itu, terlihat seorang perempuan membawa berkantung-kantung air minum untuk pasukan muslim. Diriwayatkan dari Tsa’labah bin Malik :
Suatu ketika, Khalifah ‘Umar
bin Khaththab r.a. membagikan sejumlah pakaian kepada para perempuan Madinah.
Tersisalah sehelai busana yang sangat bagus. Salah seorang dari para pemberi
hadiah berkata :
“Wahai Amirul
Mu’minin, berikanlah pakaian ini kepada
istrimu, cucu perempuan Rasulullah Saw...” (yang dimaksud adalah Ummu Kultsum, adalah anak perempuan Ali bin Abi
Thalib).
‘ Umar berkata “ Ummu Salith lebih berhak (untuk memilikinya).”
“Siapakah Ummu Salith itu ?”
“Ummu Salith itu seorang sukarelawati Uhud. Ia membawa ber -kantung-kantung kulit (yang
berisi air) untuk kami pada perang Uhud. “
Ummu Salith adalah perempuan Anshar yang
telah memberi bai’at (sumpah setia) kepada Rasulullah Saw.
Nasihat Di Malam Pengantin
Shahabat
Kutub Tarajim bercerita tentang Fatimah Az-Zahra binti Muhammad Saw, “Suatu ketika,
Fathimah tidak makan berhari-hari karena tidak ada makanan. Ali bin Abi Thalib ,
terkejut melihat wajah Fathimah pucat.
Ali bin Abi Thalib bertanya, “Kenapa engkau ini wahai Fatimah? Wajahmu begitu pucat?”
Fatimah
menjawab, “ Saya sudah tiga hari tidak makan karena tidak ada makanan di
rumah.”
Ali bertanya lagi, “ Mengapa
engkau tidak mengatakan kepadaku ?”
Fathimah berkata, “ Ayahku
Rasulullah Saw. menasihatiku di malam pengantin, jika Ali membawa makanan, makanlah. Bila
tidak, maka kamu jangan meminta! “
Fathimah putri Rasulullah membawa
keberkatan adanya keturunan bagi keluarga Rasulullah Saw yang agung.
Fathimah bercerita tentang pengalamannya, : Suatu hari, dengan air mata
berlinang-linang Fathimah datang kepada Rasulullah. Ia minta diberikan seorang
budak perempuan dari rampasan perang untuk membantu pekerjaannya. Dengan
tersenyum Rasulullah Saw. memegang tangan putrinya yang sangat dicintainya.
Beliau bersabda, “Wahai anakku Fathimah. Mereka
adalah hak para pejuang yang berperang, bukan kepunyaan ayahmu. Ketahuilah, bahwa tugas-tugas rumah tangga yang kamu kerjakan itu adalah ladang amal
bagimu. “ Fathimah pulang dengan hati yang lega.
‘Aisyah r.a.
“Perempuan
Paling Beruntung”
Siti ‘Aisyah r.a. adalah wanita paling beruntung. Beliau menikah dengan
Rasulullah Saw. dalam usia yang sangat muda. Pengetahuan agamanya sangat luas, karena secara langsung ia mendengar dari Rasul berbagai masalah
mengenai agama Islam. Daya hafalnya sangat kuat, sehingga beliau hafal
banyak hadits. Para shahabat sering bertanya kepada ‘Aisyah r.a. berbagai hal
tentang Islam.
Rasulullah Saw pernah memuji
‘Aisyah r.a , “ Seandainya dikumpulkan ilmu seluruh wanita dibandingkan dengan ilmu ‘Aisyah, maka
ilmu ‘Aisyah jauh lebih banyak. “
‘Aisyah r.a. dengan bangga mengatakan,
bahwa Nabi Saw. dipertemukan dengan dirinya melalui mimpi. Di dalam
mimpi, Nabi bertemu dengan seseorang yang berkata, “Ini adalah istrimu.”
Kemudian Nabi bersabda, “ Seandainya ini berasal dari Allah, maka
tentulah sesuatu yang sempurna.”
‘Aisyah r. a. adalah wanita yang
sangat beruntung, karena beliau dapat merawat Nabi ketika sakit sampai Rasulullah Saw. wafat di atas pangkuannya.
Diriwayatkan dari Aisyah r.a. :
وَعَنْهَا رَضِيَ ﭐللهُ عَنْهَا :
قَالَتْ أضْغَيْثُ إلَى
ﭐلنَّبِيُّ صَلَّى ﭐللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أنْ
يَمُوْتَ ، وَهُوَ مُسْنِدُ إلَيَّ ظَهْرَهُ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ
: ألّٰلَهُمَّ ﭐغْفرْ لِى وَﭐرْحَمْنِى وَألْحِقْنِى
بِالرَّفِيْقِ ﭐلأعْلٰى .
“Saat itu
beliau berada dalam pangkuanku. Aku mendengar beliau berkata, “Ya Allah,
ampunilah aku dan limpahkanlah kasih-Mu kepadaku, dan izinkan aku menemui
Kekasih Yang Maha Tinggi. “
Diriwayatkan
juga :
وَعَنْهَا رَضِيَ ﭐللهُ عَنْهَا فِى رِوَايَةِ قَالَتْ :
مَاتَ ﭐلنَّبِيُّ صَلَّى ﭐللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإنَّهُ لَبَيْنَ
خَافِنَتِي وَذَافِنَتِى ، فَلاَ أكْرَهُ شِدَّةَ ﭐلْمَوْتِ ِلأحَدٍ أبَدًا بَعْدَ ﭐلنَّبِيُّ صَلَّى ﭐللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
“Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. : Saw.Nabi
meninggal ketika beliau berada di antara dadaku dan daguku. Tak pernah
kurasakan kepedihan karena meninggalnya seseorang setelah Nabi Saw.”
“Lengan Yang Paling Panjang”
Zainab binti Jahsyi adalah istri Nabi yang sangat cantik. Nabi Saw. menyebutnya
sebagai wanita yang memiliki lengan paling panjang.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah r .a. :
عَنْ عَاءِشَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا :
أنَّ بَعْضَ أزْوَاجِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
قُلْنَا لِنَبِيِّ ، أسْرَعُ بِكَ لُحُوْْقًا ؟
قَالَ : أطْوَلُكُنَّ يَدًا . فَأخَذُوْا
قَصَبَةٌ يَذْرَعُوْنَهَا ، فَكَانَتْ سَوْدَةُ أطْوَلُهُنَّ يَدًا ،
فَعَلِمْنَا بَعْدُ : أنَّمَا كَانَتْ طُوْلَ يَدَهَا الصَّدَقَةُ ،
وَكَانَتْ أسْرَعَنَا لُحُوْقًا بِهِ ،
وَكَانَتْ تُحِبُّ الصَّدَقَةَ .
Sebagian dari istri-istri Nabi Saw.
bertanya kepada Rasulullah : “Wahai Rasulullah, siapakah
di antara kami yang akan menjadi orang pertama yang menyusul Anda ?”
Nabi Saw. bersabda, “Yang memiliki lengan paling panjang.”
Merekapun mengukur lengannya
masing-masing dengan sebatang tongkat dan ternyata yang memiliki lengan paling
panjang adalah Saudah. Ketika Zainab binti Jahsyi menjadi istri pertama wafat
sepeninggal Nabi , barulah kami menyadari bahwa lengan yang panjang itu sebuah ibarat , kiasan (tamsil) yang maksudnya adalah
: mengeluarkan sedekah. Zainab binti Jahsyi terkenal sebagai wanita yang sangat
mencintai sedekah semasa hidupnya. Rasulullah Saw. memujinya sebagai wanita yang memiliki lengan paling panjang.
“Penghuni Surga “
Seorang wanita hitam diuji kesabarannya dengan suatu
penyakit. Ia datang kepada Rasulullah minta dido’akan.
Katanya, “ Ya Rasulullah, saya menderita penyakit epilepsi. Auratku terbuka jika penyakitku sedang
kambuh, maka do’akanlah saya.”
Rasulullah Saw. bersabda, “ Jika kamu sabar, itu lebih baik bagimu. Ganjaranmu adalah surga. Atau,
kalau kamu mau, saya akan berdo’a kepada Allah agar kamu disembuhkan, tetapi
kamu tidak mendapat surga.
W anita itu
berkata, “Kalau begitu, saya akan sabar menerima ujian Allah ini. Do’akanlah saya
supaya auratku tidak tersingkap.” Rasulullah pun mendo’akannya.
“
Anak Yang Berbakti”
Inilah kisah seorang anak perempuan yang
berbakti kepada ibunya dari sebuah hadits diriwayatkan oleh Yahya Ibnu Katsir.
Ia berkata, bahwa tatkala Abu Musa Al-Asy’ari dan Abu ‘Amir datang kepada
Rasulullah Saw., beliau bersabda kepada mereka berdua :
مَافَعَلْتْ إمْرَأةٌ مِنْكُمْ تُدْعٰى كَذَا
وَكَذَا ؟ قَالُوْا : تَرَكْنَاهَا فِيْ أهْلِهَا قَالَ : فَإنَّهُ قَدْ غُفِرَلَهَا ، فَالُوْ : بِمَ يَا رَسُوْلَ
اللهِ ؟ قَالَ : بِبِرِّهَا وَالِدَتَهَا ، قَالَ : كَانَتْ لَهَا اُمٌُّ عَجُوْزٌ
كَبِيْرَةٌ ، فَجَآءَهُمُ النَّذِيْرُ أنَّ الْعَدُوَّ يُرِيْدُ أنْ يُغِيْرَعَلَيْكُمْ
فَجَعَلَتْ تَحْمِلُهَا عَلَٰى ظَهْرِهَا فَإذَاأعْيَتْ وَضَعَتْهَا ثُمَّ
ألْزَقَتْ بَطْنَهَا بِبَعْضِِ اُمِّهَا وَجَعَلَتْ رِجْلَيْهَا تَحْتَ رِجْلَيْ
اُمِّهَا مِنَ الرَّمْضَاءِ حَتّٰى نَجَتْ .
“Apa
yang sedang dilakukan seorang wanita yang bernama si Anu iu?.
Mereka menjawab, “Kami tinggalkan dia berada dalam lingkungan keluarganya (suaminya).”
Rasulullah Saw. bersabda, “ Sesungguhnya dia telah
mendapat ampunan dari Allah.”
Mereka bertanya, ” Mengapa wahai Rasulullah dia mendapat ampunan?” Rasulullah menjawab, “ Berkat
baktinya terhadap ibunya.”
Selanjutnya Yahya (rawi hadits
itu) meneruskan riwayatnya : “Wanita itu mempunyai ibu yang
sudah lanjut usia, pada suatu hari ada pengumuman darurat yang mengatakan bahwa
musuh akan datang menyerang. Segera wanita itu menggendong ibunya di pundaknya.
Apabila ia merasa lelah, ibunya ditempelkan ke perutnya sehingga perut bertemu
dengan perut, dan kaki ibunya diletakkannya di atas kakinya agar ibunya merasa
nyaman. Padang Sahara pada waktu itu sangat
panas. Ia lakukan demikian hingga selamat dari ancaman musuh.”
* Di Indonesia juga banyak terdapat wanita yang patut diteladani karena perjuangnya untuk mengusir penjajah dari bumi Ibu Pertiwi;
para wanita yang berjuang di bidang politik, di bidang pergerakan wanita, di
pendidikan dan bidang-bidang lainnya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Para wanita teladan itu antara lain :
RA.Kartini
“Pelopor
Emansipasi Wanita”
R.A.Kartini
dikenal sebagai pahlawan nasional, pejuang dan perintis kemajuan bangsa
Indonesia umumnya, dan kaum wanita khususnya. Beliau adalah puteri Bupati
Jepara, Raden Mas Adipati Sosroningrat, cucu dari seorang Kiyai (pemuka agama
Islam) di Teluk Alur. R.A.Kartini mendapat pendidikan agama yang ternyata
memberi dorongan dan inspirasi untuk berjuang mengubah dan memperbaiki struktur
serta system sosial budaya yang ada pada waktu itu, serta tidak sesuai dengan
norma agama dan hati nurani beliau yang tidak menguntungkan kaum wanita.
Perjuangan
R.A.Kartini yang sangat menonjol adalah dalam bidang emansipasi wanita,
pendidikan dan cita-cita kebangsaan berupa kemerdekaan dan kesejahteraan bagi
rakyat Indonesia. Untuk mewujudkan cita-cita perjuangan mencerdaskan bangsa dan
kaumnya, R.A.Kartini mendirikan sekolah bagi gadis-gadis dan melaksanakan
pemberantasan buta huruf di lingkungan kaum wanita. Beliau memberikan
kursus-kursus keterampilan, seperti kerajinan membuat ukiran, jahit-menjahit,
membatik, dan lain-lain serta mengusahakan pemasarannya dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya kaum wanita.
Keinginan
R.A.Kartini untuk bersekolah ke negeri Belanda sangat besar. Karena berbagai
kendala, cita-cita itu tidak dapat diwujudkan. Keinginan tersebut diungkapkan
dalam surat yang dikirim kepada sahabatnya Ny. Abendanon dan Stella. Surat-surat
itu dikumpulkan menjadi sebuah buku, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia dengan judul : “Habis Gelap Terbitlah Terang”
Perjuangan RA.Kartini
ternyata berhasil menempatkan kedudukan
dan peranan wanita Indonesia sejajar dengan kaum pria, terutama dalam bidang
pendidikan, pekerjaan, dan bidang lainnya. Alhamdulillah, sekarang bermunculan
Kartini-Kartini Indonesia yang siap membangun bangsa dan negara sesuai dengan
bidang keahliannya.
Cut Nyak Dien
“Pahlawan Wanita
Dari Negeri Rencong”
Salah seorang pahlawan wanita Indonesia yang cukup
dikenal kepatriotannya membela tanah air Indonesia adalah Cut Nyak Dien. Beliau
adalah pejuang yang tidak kenal kompromi dan pantang menyerah terhadap penjajah
Belanda yang menguasai Aceh. Cut Nyak Dien berjuang bersama-sama dengan
suaminya Teuku Umar, seorang pahlawan nasional yang gagah berani.
Dalam mengadakan perlawanan
terhadap Belanda, Cut Nyak Dien mengadakan taktik bergerilya, bersembunyi di
dalam hutan atau daerah yang tidak mudah ditemui Belanda. Namun karena ada
salah seorang kepercayaannya yang berkhianat, maka tempat persembunyian Cut
Nyak Dien dan pasukannya diketahui Belanda. Pada saat Belanda hendak menangkap
beliau, Cut nyak Dien mengadakan perlawanan, menghunus “senjata rencong” (senjata orang Aceh) ke arah musuh, walaupun akhirnya Cut Nyak Dien berhasil ditangkap.
Untuk mematahkan perlawanannya, pemerintah Belanda
mengasingkan Cut Nyak Dien ke daerah Jawa Barat, di kota
Sumedang, sampai beliau wafat pada
tahun 1908.
Rasuna Said
“Srikandi Indonesia“
Wanita Islam
Indoesia yang cukup dikenal sebagai tokoh ulama, politikus, pendidik, wartawan
dan pengusaha adalah Rasuna Said. Beliau aktif berjuang dalam bidang pendidikan
dan pergerakan kebangsaan.
Dalam bidang pendidikan, beliau selama belasan tahun menjadi guru dan
mendirikan sekolah putri Islam. Cita-cita pergerakan kebangsaan disalurkan
melalui Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII). Kemudian beliau berjuang melalui
partai politik Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Kegiatannya dalam partai
membuktikan keberanian dan kepatriotan seorang pejuang wanita Islam Indonesia,
sampai beliau mendapat julukan “Srikandi Indonesia”, pejuang yang pertama masuk
penjara pemerintah kolonial.
Rasuna Said ikut membentuk Komite Nasional Sumatera Barat, disamping
Dewan Perwakilan Negeri, menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera Barat, Front
Pertahanan Nasional Pusat (FPN), Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) serta
Badan Pekerja KNIP.
Setelah pindah ke Jawa Barat, beliau ikut aktif dalam organisasi
Persatuan Wanita Republik Indonesia (PERWARI), TH 1950 beliau diangkat sebagai
anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera (DPRS), menjadi anggota Dewan
Pertimbangan Agung sampai akhir hayatnya. Beliau dimakamkan di Taman makam
Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Nyai Ahmad
Dahlan
“Ibu Muhammadiyah”
Nyai
Ahmad Dahlan nama kecilnya Siti Walidah, adalah puteri Kyai Muhammad Fadhli,
Penghulu Kraton Yogyakarta. Suaminya, Kyai Haji Ahmad Dahlan, adalah pendiri
Muhammadyah pada tanggal 18 November 1912. Nyai Ahmad Dahlan membangun bagian wanitanya
pada tahun 1914 dengan nama “Sopo Tresno”, kemudian pada tahun 1917diubah
menjadi Aisyiyah. Nyi Ahmad Dahlan dengan setia mendampingi dan memberi
dorongan kepada suaminya (Kyai Haji Ahmad Dahlan) dalam membina dan
mengembangkan Muhammadiyah. Karena itulah beliau disebut Ibu Muhammadiyah.
Tahun 1926 dalam sidang khusus
Muktamar Aisyiyah ke 15 yang dipimpin oleh Nyai Ahmad Dahlan, mulai dipergunakan
bahasa Melayu di samping bahasa Daerah. Dua tahun kemudian dalam Sumpah Pemuda
tanggal 28 Oktober 1928 bahasa (Melayu) tersebut diikrarkan menjadi bahasa
Persatuan (Bahasa Indonesia). Aisyiyah juga merupakan salah satu pemrakarsa Kongres
Perempuan Indonesia Pertama pada tanggal 22 Desember sampai 25 Desember 1928
(pada perkembangan selanjutnya, tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu).
Dalam Tabligh Akbar di Purwokerto, Nyai
Ahmad Dahlan mendorong tumbuhnya kepanduan Muhammadiyah yang bernama Hizbul
Wathan di bawah pimpinan Sudirman (yang kemudian menjadi Panglima Besar Tentara
Nasional Indonesia). Nyai Ahmad Dahlan adalah pelopor berdirinya Pondok
Pesantren untuk puteri sebagai pusat latihan kader santri dan ulama, mendirikan
sekolah-sekolah umum yang sekarang tersebar di seluruh tanah air.
Dewi Sartika
“Juragan
Dewi”
Dewi
Sartika terkenal sebagai “Juragan Dewi” adalah putrid dari Raden Sumanegara dan
Raden Ayu Raja Permas. Sejak umur belasan tahun ia sudah bercita-cita untuk
mendirikan sekolah bagi anak-anak gadis dari kalangan bangsawan dan rakyat
jelata. Berkat kerja kerasa dan dorongan dari Bupati Bndung, R.A.A.Martanegara
dan seorang warga Negara Belanda, Den Hamer (Inspektur Kantor Penagajaran) maka
pada tanggal 16 Januari 1904 terlaksanalah sebagain kecil dari cita-citanya,
yaitu membuka sekolah bagi anak-anak gadis yang diberi nama “Sekolah Istri”.
Pada tahun 1910 perkembangan menuntut perubahan dari Sekolah Istri menjadi
“Sekolah Keutamaan Istri” yang diharapkan dapat menghasilkan murid-murid untuk
siap menghadapi tantangan rumah tangga setelah menikah. Usaha Dewi Sartika
menarik perhatian wanita-wanita lain di beberapa Kabupaten, antara lain Garut,
Tasikmalaya, Purwakarta dan kabupaten-kabupaten lain di Jawa Barat.
Sekolah “Keutamaan Istri” makin banyak peminatnya. Pada tahun 1929 atas
usul Dewi Sartika kepada pemerintah, didirikanlah sebuah gedung sekolah baru
yang diberi nama “Sekolah Raden Dewi”. Sampai akhir hayatnya, Dewi Sartika
terus berjuang untuk memajukan pendidikan, terutama sekolah-sekolah yang
didirikannya. Masih banyak lagi wanita teladan yang berjuang di berbagai
bidang. Perempuan yang dianggap sebagai makhluk lemah dan kehadirannya kurang
diharap, ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa. Demikian peran dan jasa
para wanita itu, Luhur dan Agung untuk
membangun dunia, maka ucapkanlah :
“Alhamdululillah, anakku perempuan”